oleh

Inovasi Tanaman Hias, Dorong Daya Saing Produk Florikultura Nasional

INFO 9, CIANJUR – Pemerintah terus mendorong ekspor komoditas unggulan sebagai sumber devisa. Salah satunya tanaman florikultura yang memiliki potensi ekspor yang sangat tinggi.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, saat ini preferensi pasar internasional mulai berubah ke arah tanaman tropis. Hal ini memberi peluang bagi para pengusaha di dalam negeri, mengingat potensi pengembangan tanaman hias tropis di Indonesia sangat tinggi karena Indonesia memiliki kekayaan genetik florikultura yang terbesar di dunia.

“Pengembangan industri florikultura memerlukan dukungan inovasi secara berkelanjutan berupa varietas unggul baru dan teknologi pendukungnya. Ketersediaan inovasi unggul merupakan faktor kunci dalam pengembangan subsektor florikultura,” kata Mentan Syahrul saat membuka Ekspose Inovasi Tanaman Hias di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Kamis (12/11/2020).

Inovasi teknologi, lanjutnya, harus bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas, sehingga dapat memacu pertumbuhan produksi dan peningkatan daya saing. Inovasi teknologi juga diperlukan dalam pengembangan produk (product development) untuk peningkatan nilai tambah, diversifikasi produk dan transformasi produk sesuai dengan preferensi konsumen.

Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menekankan pentingnya hasil penelitian memiliki nilai ilmiah tinggi yang aplikasinya memberi dampak luas serta dapat meningkatkan secara langsung pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Inovasi florikultura yang telah dihasilkan perlu segera diintroduksikan secara sistemik, cepat dan masif ke tangan pengguna, salah satunya melalui kerjasama kemitraan untuk pengembangannya. Bersama dengan para Mitra tersebut diharapkan dapat berdampak signifikan dalam pengembangan industri florikultura.

“Kemandirian dalam industri florikultura termasuk penyediaan benihnya akan mengurangi ketergantungan produk dari luar (import) dan bahkan akan bisa membalikkan keadaan menjadikan Indonesia tercinta ini sebagai pengeksport produk tanaman hias yang akan membanjiri pasar internasional,” katanya.

Menurut Mentan, acara ekspose inovasi tanaman hias merupakan salah satu metode diseminasi multy-channel yang efektif untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian kepada stakeholder. Melalui ekspose inovasi tanaman hias para stakeholder dapat berkomunikasi yang ditindaklanjuti dengan inisiasi kerjasama di bidang pengembangan inovasi, termasuk komersialisasi teknologi.

“Ke depan tuntutan peran lembaga litbang florikultura dalam pengembangan agribisnis florikultura makin besar sejalan dengan permasalahan yang berkembang secara dinamis. Seperti kita ketahui bahwa tren tanaman hias sangat dinamis dan cepat berubah dari waktu ke waktu. Kita harus bisa menangkap peluang dan kesempatan tersebut,” ungkapnya.

Mentan berharap jajaran Badan Litbang Pertanian agar terus berkreasi dalam perakitan varietas unggul tanaman hias yang dibutuhkan pasar tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk peningkatan daya saing sebagai syarat utama dalam merebut pasar global.

Pada kesempatan tersebut Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry mengatakan kegiatan Ekspose Inovasi Tanaman Hias bisa menjadi wahana pertemuan antar stakeholder tanaman hias dalam rangka “Akselerasi Inovasi Florikultura untuk Kesejahteraan dan Urban Farming Yang Modern, Mandiri, dan Berdaya Saing.

Menurutnya, tema ini sangat strategis untuk mendorong pemanfaatan inovasi sebagai komponen utama peningkatan daya saing produk florikultura nasional dalam kerangka mensejahterakan petani dan mengembangkan urban farming yang modern dan mandiri.

“Penyelenggaraan ekspose inovasi teknologi merupakan salah metode difusi inovasi yang efektif untuk mengintroduksikan teknologi kepada pengguna. Melalui ekspose teknologi, para petani dan pengusaha florikultura dapat menyaksikan langsung keunikan dan keunggulan masing-masing inovasi teknologi yang ditampilkan,” terang Fadjry.

Dalam lima tahun terakhir, lanjutnya, kegiatan riset florikultura telah menghasilkan inovasi unggulan yang dapat dikembangkan para pengguna untuk mendukung pembangunan agribisnis florikultura. Hingga saat ini telah dihasilkan sekitar 268 varietas unggul baru (VUB) tanaman hias, yang terdiri atas varietas krisan, anggrek, lili, anthurium, mawar, gladiol, gerbera, tapeinochilus, zingiber, alpinia, anyelir, sedap malam, dan impatiens. Bahkan, pada 2010, Balithi berhasil meraih rekor MURI sebagai institusi pelepas varietas terbanyak dalam kurun satu tahun sebanyak 25 varietas.

Inovasi teknologi lainnya adalah teknologi perbanyakan benih tanaman hias secara in vitro, massalisasi benih anggrek melalui teknologi embriogenesis somatik berbasis bioreaktor, teknologi night break, pemupukan, dan pengendalian hama/penyakit secara terpadu. Produk unggulan Gliokompos dan Bio Nutri saat ini telah dipatenkan dan dilisensikan. Bahkan varietas Puspita Nusantara telah diekspor ke luar negeri seperti Jepang, Jeddah, dan Kuwait.

Produk unggulan Balithi ini, terang Fadjry, mampu memberikan economic benefit dan social impact yang cukup besar. Varietas unggul krisan Balithi, misalnya, mampu menggantikan sekitar 35% dari total varietas yang beredar di pasar dalam negeri. Disamping itu, Balithi melalui UPBS sudah mengedarkan benih sumber krisan sebanyak 7 jutaan benih (30%), dari jumlah benih yang beredar).

Inovasi teknologi pendukung pengembangan krisan Balithi memberikan dampak kenaikan produksi 18-20% dari produksi krisan nasional. Apabila dirupiahkan, secara keseluruhan inovasi teknologi Balithi (varietas, benih, teknologi produksi), maka dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, Balithi telah memberikan kontribusi pada industri florikultura Indonesia sebesar Rp. 311,6 M, dengan nilai RoI (Return of Investment) 2,30.

Bahkan dari hasil kerjasama dengan Sakata Seed Corporation (SSC)-Jepang telah dihasilkan VUB tanaman impatiens yang saat ini telah dipasarkan ke seluruh dunia dan logo Agroinovasi terdapat dalam setiap produk tersebut. Selain itu tanaman impatiens juga mendapat penghargaan sebagai tanaman dengan penampilan terbaik (bintang 8) di Italia dan Belanda.

“Inovasi tersebut memiliki keunggulan yang setara bahkan ada yang lebih baik dari pada inovasi impor, sehingga ke depan kita tidak perlu lagi mengimpor inovasi dari luar negeri. Marilah kita jadikan inovasi florikultura nasional menjadi tuan rumah di negara sendiri untuk meningkatkan daya saing produk florikultura nasional,” pungkasnya.

Dalam ekspose inovasi tanaman hias ini, juga dilaksanakan penandatanganan kerja sama kemitraan pengembangan inovasi teknologi pertanian, pemberian penghargaan ASN berprestasi lingkup Balitbangtan, kunjungan ke gelar inovasi teknologi mutakhir tanaman hias, taman tematik, model urban farming, taman agrowisata, koleksi plasma nutfah tanaman hias, dan display varietas unggul tanaman hias.

Liputan : (tem/red)

pasang iklan anda

Komentar

Berita populer