oleh

Joko Widodo: Jangan Cepat Puas, Potensi Pasar Ekspor Masih Terbuka Lebar

-PEMERINTAH-87 views

BOGOR – Presiden Joko Widodo menyaksikan Pelepasan Ekspor ke Pasar Global Tahun 2020, yang ditandai dengan pelepasan truk kontainer, yang membawa produk ekspor Indonesia, pada Jumat kemarin (4/12/2020), secara virtual di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Situasi pandemi dan perekonomian global yang sedang lesu, saat ini juga berdampak pada penurunan ekspor. Namun, Presiden Joko Widodo meyakini peluang ekspor masih terbuka lebar untuk produk-produk Indonesia.

“ Lebih jeli melihat peluang pasar ekspor yang masih terbuka lebar di negara-negara yang juga sekarang ini sedang mengalami pandemi,” kata Presiden Joko Widodo.

Melihat potensi ekspor Indonesia masih terbuka, baik dari sisi keragaman produk komoditi, kreativitas dan kualitas, maupun volume dan tujuan negara ekspor.

“Potensi kita masih sangat besar. Kuncinya, proaktif dan jangan pasif,” ujarnya.

Beliau menyampaikan kegembiraan atas kinerja ekspor Indonesia periode Januari-Oktober 2020, yang mengalami surplus 17,07 miliar dolar AS. Namun, ia mengingatkan pihak terkait untuk tidak cepat puas, pada capaian tersebut, karena potensi pasar ekspor yang belum tergarap masih banyak dan sangat besar.

Sementara jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih tertinggal dalam menangkap peluang ekspor. Ia pun menyampaikan sejumlah fakta mengenai kinerja ekspor Indonesia.

Dalam ekspor kopi tahun 2019, Indonesia merupakan produsen kopi terbesar nomor empat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia.

“Namun, Indonesia tercatat sebagai eksportir terbesar kopi yang ke-8 di dunia,” ujar Presiden.

Kinerja ekspor tersebut, menurut dia, masih tertinggal dibandingkan dengan Brazil, Swiss, Jerman, Kolombia, bahkan Vietnam.

Joko Widodo menambahkan, Potret kinerja ekspor kopi di Indonesia masih tertinggal, dibandingkan dengan Vietnam yang pada tahun 2019 mencapai US$2,22 miliar.

“Sedangkan, kinerja ekspor kopi Indonesia tahun 2019 berada di angka US$883,12 juta,” tambahnya.

Presiden mengungkapkan, Indonesia merupakan produsen garmen terbesar ke-8 di dunia, namun hanya menduduki peringkat ke-22 dunia, eksportir produk tersebut.

“Kita menjadi produsen kayu ringan terbesar di dunia, termasuk jenis kayu sengon dan jabon, tapi menjadi eksportir home decor ke-19 terbesar di dunia,” tambahnya.

Masih paparnya, selain kalah dengan Vietnam, Indonesia hanya berada di peringkat ke-21 terbesar dunia dalam ekspor produk furnitur.

Kita dikenal sebagai negara produsen produk perikanan terbesar kedua dunia. Namun, potret ekspornya juga masih di peringkat ke-13,” ungkapnya.

Presiden menyampaikan, fakta-fakta tersebut tidak harus membuat pesimis, melainkan momentum untuk melakukan pembenahan kinerja ekspor Indonesia.

“Tidak ada jalan bagi kita selain melakukan langkah-langkah perbaikan, langkah-langkah pembenahan. Diperlukan reformasi besar-besaran pada ekosistem berusaha bagi eksportir kita,” tegasnya.

Kepala Negara pun meminta agar berbagai persoalan yang menghambat kinerja ekspor dicermati dan dicarikan solusinya satu per satu.

“Regulasi yang rumit, saya sudah sampaikan bolak balik, segera kita sederhanakan. Prosedur birokrasi yang menghambat, juga saya sampaikan berkali-kali, segera dipangkas,” tuturnya.

Presiden juga mengingatkan perlunya dilakukan percepatan negosiasi perjanjian-perjanjian kemitraan komprehensif atau CEPA, terutama dengan negara-negara yang potensial yang menjadi pasar produk ekspor Indonesia.

Berbagai perjanjian perdagangan yang sudah ada juga harus segera dioptimalkan, sambil terus mencari pasar-pasar baru di negara-negara nontradisional, sehingga pasar ekspor Indonesia semakin luas.

“Atas perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) harus mampu menjadi market agent, melakukan market intelligence,” tegasnya.

Daya saing eksportir khususnya UKM juga harus terus ditingkatkan.

“Gandeng UKM di seluruh Indonesia menjadi satu kesatuan yang kuat untuk memenuhi pesanan pembeli,” pungkasnya. (Red)

pasang iklan anda

Komentar

Berita populer