oleh

Menengok Seorang Pejuang Kemerdekaan Warga Cianjur, Riwayatmu Kini

-RAGAM-234 views

CIANJUR– Miris, dan perlu dibantu, Abah Dadan (70) seorang pejuang kemerdekaan. Kini masih hidup, asal warga Kampung Pasir Kelewih RT 01/10, Desa Wanasari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Beliau (Abah Dadan) salah satu mantan pejuang dari Organisasi Keamanan Desa (OKD) dan Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR) saat melawan gerombolan pemberontak DI/TII pada tahun 1958.

Ia bercerita, waktu itu dirinya bergabung dengan TNI, yaitu OPR di bawah Kodam III Siliwangi, bersama Kopral Arifin, untuk mengusir para antek-antek gerombolan pemberontak bersembunyi di hutan-hutan wilayah Cidaun dan Naringgul.

“Ya, beginilah kehidupan saya sekarang ini. Sehari-hari kerja serabutan,” akunya, Jumat (23/10/2020).

Sungguh miris, melihat kondisi kehidupannya, tak luput dari perhatian pemerintah. Dan, kondisi perlu dibantu. Bahkan, penghasilan tidak menetap (kerja) dan rumah tempat tinggalnya juga tidak layak huni (Rutilahu berukuran 4×5 meter, kondisi genting sudah pada bocor, serta dinding bilik sudah bolong-bolong.

Bah Dan mengungkapkan, kondisi rumah seperti ini. Kalau turun hujan, tak heran kedinginan. Bukan rumah ini gubuk reyod, itupun berdiri di atas tanah milik orang lain yang dipinjamkan sementara.

“Saya merasa bangga sebagai anak bangsa, artinya sudah berjuang bisa membantu untuk kemerdekaan Negara Republik Indonesia (NKRI), dari antek-antek penjajah ingin merongrong keutuhan negara kita tercinta ini,” bebernya ikhas dan pasrah.

Sang pejuang dari OPR ini dikaruniai anak delapan orang. Empat orang sudah berumah tangga, dan yang empat lagi ikut sama abah tinggal digubuk reyod ini.

ā€¯Semenjak istri meninggal beberapa tahun lalu, saya yang mengurus segalanya keperluan anak-anak hingga tumbuh dewasa,” bilangnya.

Pengalaman paling mengesankan, masih ujar Abah Dadan, waktu ikut terlibat di OKD) dan OPR, ada yang paling mengharukan waktu itu sedang istirahat bersama pasukan TNI, yang dikomandoi oleh Kopral Arifin.

Tiba-tiba, sambungnya, datang gerombolan pemberontak DI/TII, hendak menyerang dengan sigap dirinya bersama Kopral Arifin, langsung mengarahkan senjata karaben Jepang laras panjang ke arah pemberontak, dan sempat terjadi baku tembak, antara pemberontak dengan pasukan TNI.

“Nah, waktu itu ada salah satu dari pemberontak sempat berkelahi dengan saya. Dan, akhirnya pada lari kocar-kacir ke arah hutan,” papar Abah Dadan.

Para pemberontak itu, lebih lanjut Abah Dadan menuturkan, dikenal sadis terhadap warga. Mereka, kalau keinginannya tidak dikasih bisa membunuh.

“Makanya saya tumpas bersama-sama pasukan TNI dan OKD, OPR yang dipimpin oleh Kopral Arifin,” imbuhnya.

Terkahir, ia menambahkan, mungkin kalau masih ada sekarang pak Arifin pangkatnya sudah Jenderal. Dulu pernah punya surat tugas, mungkin kalau sekarang bisa disebut SK.

“Tapi hilang waktu itu disimpan di lemari, saat dicari- cari tidak ketemu,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua RW Dodo mengatakan, kalau untuk bantuan rumah layak huni (Rutilahu) sebenarnya sudah sering ke pihak Pemerintah Desa (Pemdes) mengusulan dan laporan.

“Nah, tapi belum ada tindak lanjutnya hingga saat ini,” katanya.

Pernah waktu itu, sambungnya, dari desa ada yang foto-foto dan menanyakan berapa ukuranya, tapi sampai sekarang belum juga turun bantuan untuk rehab rumah.

Masih ujar Ketua RW, rencananya bulan-bulan ini bersama warga sekitar mau membantu secara swadaya, untuk membangun rumah Abah Dadan. Karena lokasi tanah yang sekarang ditempati milik orang lain, dan sama orangnya mau dipakai.

“Mungkin, terpaksa rencanaya akan dipindahkan ke tempat lain. Kebetulan ada salah seorang warga mengijinkan, dan memberi pinjaman tanah untuk ditempati,” ujarnya.

Ketua RW mewakili warga berharap, tentunya harapan semoga segera mendapatkan bantuan untuk pembangunan rumah yang layak huni.

“Karena kasihan, melihat kondisinya sering sakit-sakitan. Mungkin karena umurnya sudah tua,” pungkasnya.(Die)

pasang iklan anda

Komentar

Berita populer