oleh

Pengepul Sayuran Butuh Suntikan Modal, Dimasa PPKM Berlangsung

INFOSEMBILAN – CIANJUR l Dimasa PPKM, pengepul sayuran terpantau Infosembilan dilokasi kondisi saat ini masih sepi, dimana pemkab Cianjur telah menyatakan level 2.

Yang beralamat Kampung Pasirkampung RT 13/RW/14, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet. Saat ini masih menunggu suntikan modal.

Ukon (44), pengepul sayuran mengatakan, dampak PPKM ini mulai dirasakan semenjak tahun 2019 ahir sampai sekarang, sudah lama menggeluti sebagai pengepul sayuran selama kurun waktu kurang lebih sembilan tahun.

” Terutama dibidang bermacam-macam sayuran, seperti bawang daun, wortel, col, saledri dan vakcoy,” katanya, kepada Infosembilan, Sabtu, (11/09/2021).

Ukon mengungkapkan, sulitnya menjual hasil panen ke luar Daerah, akibatnya petani kehilangan pendapatan, Yang ada merugi terus-terusan, kadang barang yang sudah dikirim semuanya, dua atau satu macam sayuran dalam kantong pelastik, sekitar 50% kembali lagi.

” Sebelum covid 19 biasanya ngeluarin satu kintal persatu barang misalnya wortol harga tinggi bisa mencapai 4.000 per kilogram (kg), kini untuk dijual dengan harga 2.000/kg sudah sangat sulit,” ungkapnya.

Masih kata Ukon, sebagai petani saat ini. Sayuran wortel pernah mau dibeli harga sekitar Rp1.000 per kilo. Nah, sekarang drastis anjlok penghasilan selama dua taun sampai sekarang.

” Akhiran sayuran tidak terserap dan akhirnya merugi terus,” bebernya.

Dari luas kebun, 5.000 meter dari penghasilan jauh sebelum pandemi, kalau prediksi sekarang sayuran kadang naik kadang menurun tidak bisa keprediksikan.

” Disaat lagi panen harga malah anjlok menurun, barang banyak tidak ada yang mau beli tidak terserap pasar. Sayuran kembali kepakan ternak atau dibuang ke Kebun menjadi busuk itung-itung menjadi berak,” sambung Ukon.

Waktu sebelum pandemi 2019 harga seimbang bisa cara mengatur sampai bisa menyisihkan untuk nabung, kalau sekarang malah banyak rugi, karna tidak seimbang pendapatan.

” Karna hasil yang didapat tidak sesuai dengan biyaya taman, apalagi pupuk yang bersubsidi langka. Ada pupuk yang non bersubsidi harganya mahal. Pandemi ini membuat petani hancur,” kata dia dengan raut wajah muram.

Ahirnya pengeluaran100%pendapatan50% jadi karna tidak seimbang antara pendapatan sama pengeluaran untuk bermodal lagi tidak ada.

” Saya berharap adanya bantuan modal, supaya berkebun saya bisa berkembang lagi. Pandemi cepat berlalu prekonomian rakyat menengah, maximalnya ada keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan,” pungkas Ukon.

Penulis : (Dnrc’1636)

pasang iklan anda

Komentar

Berita populer