oleh

Putar Otak, Meskipun Terdampak Pandemi Covid-19, Petani Cianjur Kembangkan Budidaya Porang

-RAGAM-173 views

CIANJUR – Meskipun terkena dampak pandemi Covid-19, para petani warga Desa Sindangasih, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur putar otak, bisa mengembangkan budidaya tumbuhan porang (jenis umbi) di lahan garapan.

Koordinator Penyuluh Pertanian (KPP) Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Karangtengah Dinas Pertanian Pangan Perkebunan dan Hortikultura (DP3H) Kabupaten Cianjur, Abdul Sidik mengatakan, pengembangan tumbuhan porang di desa ini, bisa dikatakan sebagai pionir.

Sidik mengungkapkan, di masa pandemi saat ini harus pandai-pansai atau pintar mencari oekuang. Apalagi aktivitas dibatasi, jadi harus kreatif. Seperti halnya langkah yang dilakukan petani di desa itu, diharapkan bisa diadopsi oleh seluruh desa ada di Cianjur khususnya.

Ia memaparkan, petani porang masih jarang penggarapnya, padahal tumbuhan jenis umbi-umbian ini memiliki nilai jual yang relatif cukup tinggi. Jangan bermalas-malasan kerja dan mengembangkan potensi ada dalam diri, karena terganjal pademi saat ini.

Artinya, masih kata Sidik, tetap kita selalu mematuhi protokol kesehatan. Bila sedang bekerja, dan sesudah bekerja pun jaga kebersihan dan kesehatan.

Ia menyambungkan, selain berbagi ilmu di bidang pertanian saling mengingatkan pula pentingnya menerapkan kebiasaan perilaku baru 3M (Menjaga jarak, Memakai masker dan Mencuci tangan pakai sabun).

“Bisa berbagi ilmu pengetahuan bertani untuk bisa berkolaborasi, juga mentaati protokol kesehatan pula,” papar Sidik, Jumat (16/10/2020).

Masih papar Sidik, hal ini bisa menjadi nilai lebih atau tambah pendapatan bagi para petani. Tumbuhan porang banyak dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai produk komersil.

“Nah, misalnya untuk bahan baku kosmetik, obat-obatan (farmasi), jeli dan lainnya,” jelas dia.

Koordinator P2BP Karangtengah ini menuturkan, tumbuhan porang adalah komoditas ekspor. Karena, di luar negeri dijadikan bahan baku berbagai produk. Makanya, tumbuhan porang bisa menjadi peluang besar, untuk para petani.
Pasarnya pun sudah jelas.

“Apalagi sekarang dibantu Kementerian Pertanian untuk ekspor ke luar,” ujar Sidik.

Dia menyambungkan, di desa tersebut merupakan wilayah yang pertama mengembangkan tumbuhan porang di kawasan Cianjur utara. Sebelumnya di wilayah Cianjur Selatan (Cisel).

“Ada juga yang mengembangkannya di Kecamatan Cijati,” kata Sidik.

Sementara, lahan yang dikembangkan untuk tumbuhan porang di Desa Sindangasih, juga cukup mumpuni. Ada yang mencapai lima hektar. Bahkan pengembangannya mencapai 15 hektare.

“Itu sangat luar biasa kan,” bilang Sidik.

Diketahui, tumbuhan berjenis liar porang, bisa ditanam pada lahan berkarakteristik apapun. Artinya, mau ditanam di dataran tinggi maupun rendah, tumbuhan ini bisa tetap bertahan.

Kemudian, Desa Sindangasih yang notabene merupakan daerah dataran rendah. Dengan ketinggian 300-400 mdpl, cocok juga tumbuhan porang di tanam di sini.

Terakhir Sidik menambahkan, dari segi perawatan tidak terlalu rumit. Namun, pihak BPP akan ikut mengawal seandainya terjadi potensi serangan organisme pengganggu tanaman.

Petani atau kelompok tani, tuturnya, bisa melaporkan kalau ada potensi menurunkan hasil akibat hama atau penyakit. Akan coba bantu, yang jadi fokus perhatian pihaknya dari tumbuhan porang ini adalah bagian umbinya.

“Nah, selain itu elemen batang dan daun juga,” pungkasnya.

Terpisah, seorang petani porang, H Yandi Sopiandi mengatakan, ada empat lokasi yang dijadikan lahan pengembangan tumbuhan porang. Jadi, sangat cocok untuk mengembangkan budidaya tanaman porang, apalagi di masa pandemi Covid-19.

“Memanfaatkan lahan luasannya mencapai sekitar 5,4 hektar,” katanya.

Ia memaparkan, desa sini baru dikembangkan di lahan seluas satu hektar. Dari satu hektar lahan, membutuhkan sekitar 40 ribu bibit atau biji tumbuhan porang.

“Ada tiga jenis bibit tumbuhan porang yaitu katak, umbi, dan polybag,” terang Yandi.

Lebih lanjut ia mengungikan, kalau ingin irit modal, bisa menggunakan bibit jenis katak. Harga per kilogramnya sekitar Rp300 ribu yang isi 300 biji. Jadi, kalau untuk satu hektar, berarti membutuhkan sebanyak 120 kilogram.

“Dihitung-hitung, untuk modal bibit hanya Rp40 juta,” bilang Yandi.

Untuk proses pemupukan, kali pertama menggunakan kompos dari kotoran kambing. Estimasi volume penggunaannya di lahan satu hektar sekitar 200 kilogram. Selang sebulan kemudian setelah proses tanam, dilakukan lagi pemupukan kedua yang masih menggunakan kompos kambing.

Yandi memastikan, pengembangan tumbuhan porang yang dilakukannya ramah lingkungan karena menggunakan pupuk organik. Pada bulan kedua setelah tumbuh batang dan daun, piahknya menggunakan pupuk kompos kotoran sapi.

“Ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan umbi. Jadi ada dua macam pupuk kompos yang kami gunakan,” tambahnya.

Awalnya ia menyambungkan, hanya mengembangkan tumbuhan porang di lahan 1.000 hektar. Hasil dari panen digunakan sebagai bibit. Setelah diestimasi secara finansial, ada keuntungan yang bisa diperoleh. Baru berani mengembangkannya di lahan hampir 5,4 hektar.

“Masa tanam tumbuhan porang biasanya pada Oktober atau November. Musim panennya diperkirakan pada Juni atau Juli,” bebernya.

Sidik mengakhiri, saat panen akan diawali terjadinya dorman atau daun gugur dengan sendirinya. Kita diamkan selama dua minggu. Setelah itu baru bisa dipanen.

Lalu, lanjutnya Sidik, harga jual umbi porang bisa mencapai kisaran Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.

“Saya biasa menjual hasil panennya ke Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Kalau di Cariu, Bogor, itu harganya bisa mencapai Rp15 ribu per kilogram,” tutupnya.(Red)

pasang iklan anda

Komentar

Berita populer