oleh

Sejarah Singkat Diasingkan ke Cianjur, Ini Kata Cucu Pangeran Hidayatulloh

CIANJUR – Sekilas mengenal langsung dari cucunya. Sosok Pangeran Hidayattulloh pejuang jaman Pemerintah Kolonial Belanda, yang di makamkan di Joglo Jl. Pangeran Hidayatulloh Kelurahan Sawahgede Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur.

Cucu keturunan Pangeran Hidayatulloh Johan Rangga, atau Bonang sapaan akrabnya menceritakan, kepada infosembilan.com, Rabu (31/3/2021).

“Pangeran Hidayatulloh adalah Sultan di Kerajaan Banjar, beliau menguasai medan perang yaitu Kalimantan tengah, Kalimantan timur dan Kalimantan selatan”, ujarnya.

Pangeran Hidayatulloh selalu melawan terhadap Kolonial Belanda sehingga dia ditangkap dan diasingkan.

“Nah, Proses penangkapannya oleh Kolonial, Beliau ditipu untuk mengumpulkan keluarganya dengan diberi waktu satu jam,” Kata Johan.

Lalu, dalam sejam terkumpul 67 orang, termasuk beliau, istri, anak, adik dan ibunya, serta pengikut setianya.

“Setelah terkumpul 67 orang tersebut, beliau di tangkap, lalu di bawa dari Martapura ke Banjarmasin,” terangnya.

Rombongan nginep semalam di Banjarmasin, karena menungggu Kapal Hindia Belanda datang. Setelah kapal tiba Pangeran Hidayattulloh diangkut ke Batavia. Dari batavia langsung diasingkan ke Cianjur sekitar tahun 1862.

“Bukti sejarah beliau di Cianjur salah satunya ada Kampung Banjar. Saat ini berubah nama, menjadi Jalan Yos Soedarso,” ungkap Rangga.

Dia menjelaskan, memang di kawasan itulah kakek buyut saya dulu tinggal, setelah dibuang Belanda dari Banjarmasin.

” Tepatnya dekat Gedung GGI, sekitar belakang Taman kreatif joglo sekarang, beliau tinggal,” bebernya.

Bonang memaparkan, nama beliau dikenal banyak khalayak khususnya di Cianjur, menurut dia sejarah hidup buyutnya, selama 42 tahun tinggal di tanah tempat pembuang.

“Sepak terjang sang Pangeran Hidayatulah, sangatlah dibatasi oleh pemerintah Hindia Belanda,” ujar Bonang.

Masih paparnya, kisah beliau yang pernah melawan Belanda ini sangat dirahasiakan di Cianjur.

” Hanya Bupati Cianjur dan keluarganya saja yang tahu. Masyarakat kala itu hanya mengenal sebagai sosok ulama kharismatik, yang selalu memakai jubah kuning, bila pergi beribadah, dari rumah lalu pergi ke Masjid Agung Cianjur,” ungkapnya.

Menurut Bonang, Nama Pangeran Hidayattulloh di jadikan nama salah satu ruas jalan di Cianjur.

“ini artinya, beliau adalah salah satu tokoh terkemuka. pejuang melawan kolonial Belanda, serta menjalankan syi’ar islam di Cianjur,” pungkasnya.

Kemudian, Pangeran Hidayatulloh wafat pada tahun 1904 dan almarhumah di makamkan di Joglo Kelurahan Sawahgede kecamatan Cianjur.

“Nah, untuk saat ini makam beliau kami jaga dan urus bersama Yayasan Pangeran Hidayatulloh,” Tutup Johan Rangga. (Abah Andri)

Editor, Ledi Hasyim

pasang iklan anda

Komentar

Berita populer